Cari Blog Ini

Kamis, 09 Juli 2015

BENDUNGAN MEJAGONG PEMALANG

BENDUNGAN MEJAGONG
tempat ini menjadi alternatif paling baik ketika aku menginap di rumah salah satu santri seniorku di pondok....suasan jenuh berada di rumahnya membuatku ingin keluar mencari udara segar di pagi hari..
nggak taunya ada tempat seperti ini di dekat rumahnya, tepatnya di Desa Mejagong, Pemalang..buat kalian yang main ke pemalang bisa niih mampir di sini bentar, eiits jangan lupa bawa alat pancing yaakh...





 emang siii, ini pemandangan buatan, namanya juga BENDUNGAN, hehe tapi lumayan kooq buat adem-adem dikiit..



Di samping bendungan ini juga terdapat tempat buat nge-camp..kayaknya si asik nge-camp di situ..mungkin next time kali yaakhh..hehhe



 Cukup buat bergaya ala pecinta alam gituuu..hehe





memory with # Mba.iduut dan mba Betiii

MAKALAH FILSAFAT AL-FARABI

FILSAFAT AL-FARABI
Disusun dan diajukan Guna Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Filsafat Islam, Dosen Pengampu : Muridan, M.Ag

Di Susun oleh :
Taat Dwi Prasetyo      (1323305059)
Tutut Nuraeni                         (1323305069)
Rima Reftiana            (1323305057)
Dina Rahmawati         (1323305040)
Ramadhona                 (1323305048)
Fitria wahyu               (1323305058)
Laras Anisa                 (1323305075)

Tarbiyah/2 PGMI B
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO

2014

                                             KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum, wr.wb
Innal hamda lillahi wassholatu wassalamu’ala Rasulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta raya, shalawat dan salam penghormatan bagi insan pilihan, kekasih al-Halim, Muhammad SAW yang penyantun.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah-Nya sehingga kami dapat  menyusun makalah yang berjudul Sejarah Perkembangan Hindu-Budha di Indonesia dengan tepat waktu. Kami berterimakasih kepada bapak ......selaku dosen mata kuliah Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan mengenai Sejarah yang ada di Indonesia, terutama sejarah berkembangnya agama Hindu Budha yang hingga kini masih dapat kita nikmati peninggalan-peninggalannya. Dengan demikian, akan mendorong pembaca untuk turut andil dalam melestarikan kebudayaan yang telah ada di Indonesia. Kami  juga sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mohon maaf atas ketidak sempurnaan tersebut dan kami akan dengan senang hati bila ada kritik dan saran demi perbaikan makalah ini.




                                                                                    Purwokerto, September 2014

                                                                                                Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                               i
Daftar Isi                                                                                                         ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah                                                                            1
B. Rumusan Masalah                                                                                     1
C. Tujuan                                                                                                        1
BAB II PEMBAHASAN
A. Biografi Al-Farabi                                                                                     2
B. Karya Tulis Al-Farabi                                                                               3
C. Filsafat Al-Farabi
1. Rekonsiliasi Al-Farabi                                                                   3
2. Ketuhanan                                                                                       4
3. Teori Emanasi                                                                                5
4. Kenabian                                                                                         6
5. Negara Utama                                                                                 7
6. Jiwa                                                                                                 10
7. Akal                                                                                                            11
BAB III KESIMPULAN                                                                                 12
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Munculnya peradaban islam tentu tidak lepas dari berbagai pemikiran yang berkembang dalam islam. Berbagai pemikiran yang muncul tersebut biasa disebut filsafat islam. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran-pemikiran yang berkembang dalam filsafat islam tersebut didorong oleh pemikiran filsafat Yunani yang masuk ke Islam. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa filsafat islam adalah turunan atau tiruan dari filsafat yunani. Filsafat islam adalah hasil interaksi dengan filsafat yunani dengan yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan pemikiran rasional umat islam telah mapan sebelum terjadinya tranmisi filsafat yunani ke dalam islam.
Dalam islam juga terdapat para filsuf yang terkenal dengan hasil-hasil pemikirannya seperti AL-Farabi, Muhammad Iqbal, Al-Ghazali dan masih banyak yang lainnya. Salah satu filsuf muslim yang menarik perhatian kami adalah Al-Farabi. Beliau adalah penerus tradisi intelektual Al-Kindi yang dengan kompetensi, kreativitas, kebebasan berfikir dan tingkat sofistikasinya yang melampaui gurunya.
B. Rumusan Masalah
1. Seperti apa biografi Al-Farabi beserta karya-karyanya?
2. Filsafat Al-Farabi?
C. Tujuan
Untuk mengetahui seperti apa biografi dari seorang filosof muslim yang terkenal seperti Al-Farabi, mengetahui karya-karya besarnya juga memahami isi dari hasil pemikirannya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Al-Farabi
Abu Nashr Muhammad ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh, yang akrab dengan panggilan Al-Farabi ini lahir di Wasij, Distrik Farab, Turkistan pada tahun 257 H/870 M dari seorang ayah berpangkat jendral kebangsaan persia dan ibunya berkebangsaan Turki. Al-Farabi menghembuskan nafas terakhirnya pada bulan desember 950 M di Damaskus pada usia 80 tahun.[1]
Sebagai filosof muslim yang terkenal, Al-Farabi memulai karirnya dalam ilmu pengetahuan dengan berhijrah ke kota Baghdad pada usia 40 tahun, yang mana kota Baghdad itu sendiri merupakan pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia di kala itu. Ia belajar di sana selama 20 tahun, dan berguru kepada Abu Bakar Al-Saraj, Abu Bisyri Mattius ibnu Yunus. Tidak lama kemudian, ia mencoba pergi ke Harran, pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil dan berguru kepada Yuhanna ibnu Jailan. Akan tetapi, dalam waktu singkat ia kembali lagi ke Baghdad untuk memperdalam ilmu filsafat setelah ia menguasai ilmu mantiq(logika). Selama di Baghdad, ia banyak menggunakan waktunya untuk berdiskusi, mengarang, mengajar, dan mengulas buku-buku filsafat.[2]
Sebagai filosof muslim besar, Al-Farabi menguasai matematika, kimia, astronomi, musik, ilmu alam, logika, filsafat, bahasa dan lainnya. Khusus bahasa, menurut riwayat, ia menguasai 70 bahasa. Tidak hanya itu, ia juga benar-benar memahami filsafat Aristoteles, yang dijuluki al-Mu’alim al-Awwal (Guru Pertama), sehingga tidak mengherankan bila Ibnu Sina, yang menyandang predikat al-Syaikh al-Ra’is (Kiyahi Utama), mendapat kunci dalam memahami filsafat Aristoteles dari buku Al-Farabi yang berjudul fi Aghradi ma’ba al-Thabi’at. Karena itulah, dalam dunia intelektual islam, ia mendapat kehormatan dengan julukan al-Mu’alim al-Sany (Guru Kedua).
B. Karya Tulis Al-Farabi
Diantara karya tulis Al-Farabi yang terpenting ialah:
a. Al-Jam’ bain Ra’yin al-Hakimain
b. Tashil al-Sa’adat
c. Maqalat fi Aghradh ma ba’d al-Thabi’at
d. Risalat fi Isbat al-Mufaraqat
e. ‘Uyun al-Masa’il
f. Ara’Ahl al-Madinat al-Fadhilat
g. Maqalat fi Ma’any al-Aql
h. Ihsha al-‘Ulum
i. Fushul al-Hukm
j. Al- Siyasat al-Madaniyyat
k. Risalat al-Aql dan lain-lainnya.

C. Filsafat Al-Farabi
1. Rekonsiliasi Al-Farabi
Menurut Al-Farabi, filsafat adalah Al-‘ilmu bil Maujudaat bima Hiya Al-Maujuddat, yang berarti suatu ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada. Al-Farabi berhasil meletakkan dasar-dasar filsafat ke dalam ajaran islam. Dia juga berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat Plato dan Aristoteles sebab kelihatan berlainan pemikirannya tetapi hakikatnya mereka bersatu dalam tujuannya[3].
Al-Farabi berkeyakinan bahwa aliran filsafat yang bermacam-macam itu hakekatnya hanya satu, yaitu sama-sama mencari kebenaran yang satu. Karena tujuan filsafat ialah memikirkan kebenaran, sedangkan kebenaran itu hanya satu macam dan berupa pada hakekatnya.
Al-Farabi merekonsiliasikan antara agama dan filsafat. Menurut para filosof muslim meyakini Al-Qur’an dan Hadist adalah hak dan benar, dan filsafat juga adalah benar. Bagi filosof perantaraannya Akal Mustafad, sedang dalam agama perantaraan wahyu disampaikan kepada nabi-nabi.
Oleh karena itu, kata Al-Farabi, tidaklah berbeda kebenaran yang disampaikan oleh para nabi dengan kebenaran yang dimajukan filosof, dan antara lain ajaran agama islam dan filsaafat Yunani. Akan tetapi hal ini tidak berarti Al-Farabi menerima kelebihan filsafat dari agama.
2. Ketuhanan
Al-Farabi dalam pembahasan tentang ketuhanan mengompromikan antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme, yakni al-Maujud al-awwal (wujud pertama) sebagai sebab pertama bagi segala yang ada. Konsep ini tidak bertentangan dengan keesaan yang mutlak dalam ajaran Islam.
Tentang sifat-sifat Allah Al-Farabi sejalan dengan Mu’azilah, yakni sifat Allah tidak berbeda dengan zat-Nya (substansi-Nya). Sebaliknya, bila sifat-sifat Allah berbeda dengan substansi-Nya atau diberi sifat wujud tersendiri dan kemudian melekatkannya kepada zat Allah, tentu saja sifat-sifat itu kadim pula sebagaimana substansi-Nya bersifat kadim.
Untuk tahu dan yakin terhadap esensi wujud Allah, menurut Al-Farabi, tidak perlu dengan menambahkan sifat-sifat tertentu pada zat Allah. Hal ini disebabkan pengetahuan tentang zat Allah lebih nyata dan yakin dari pengetahuan kita terhadap yang selain-Nya. Sebab Allah adalah wujud yang paling sempurna, maka pengetahuan tentang Dia adalah pengetahuan yang paling sempurna.
3. Teori Emanasi
Dalam falsafah emanasi Al-Farabi menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari yang satu. Tuhan bersifat Maha Satu, tidak berubah, jauh dari materi, jauh dari arti banyak. Maha Sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Kalau demikian hakikat Tuhan, bagaimana alam materi ini dari yang Maha Satu? Menurut Al-Farabi alam terjadi dengan cara emanasi. Emanasi adalah teori tentang karena sesuatu yang wujud mumkin (alam makhluk) dari Dzat yang wajibul wujud (Dzat yang Mesti Adanya/ Tuhan). Teori emanasi disebut juga sebagai teori “urut-urutan wujud”.
            Cara terjadinya emanasi Al-Farabi mengatakan bahwa Tuhan itu Esa. Karena itu yang keluar dariNya juga satu wujud saja, sebab emanasi itu timbul  karena pengetahuan (ilmu) Tuhan terhadap zatNya yang satu. Dasar adanya emanasi tersebut adalah karena dalam pemikiran Tuhan dan pemikiran akal-akal terdapat kekuatan emanasi dan penciptanya. Dalam alam manusia sendiri, apabila kita memikirkan sesuatu, maka tergeraklah kekuatan badan untuk mengusahakan terlaksananya atau wujudnya. Wujud yang pertama keluar dari Tuhan disebut akal pertama yang mengandung dua segi yaitu:
1)     Segi hakikatnya sendiri, yaitu wujud yang mungkin
2)     Segi lain yang wujudnya nyata dan yang terjadi karena adanya Tuhan, sebagai zat yang menjadikan.
Jadi, meskipun akal pertama tersebut tunggal namun pada dirinya terdapat bagian-bagian, yaitu adanya dua segi-segi lain, maka dapat dibenarkan adanya bilangan pada alam sejak dari akal pertama. Dari pemikiran akal pertama, dalam kedudukannya sebagai wujud yang wajib (nyata) karena Tuhan, dan sebagai wujud yang mengetahui Tuhan, maka keluarlah Akal kedua. Dari pemikiran akal pertama, dalam kedudukannya sebagai wujud yang mungkin dan mengetahui dirinya, maka timbullah langit pertama atau benda langit dan jiwanya. Dari Akal Kedua timbullah Akal Ketiga dan langit kedua atau bintang-bintang tetap beserta jiwanya, dengan cara yang sama seperti terjadi pada akal pertama. Dari Akal Ketiga, keluarlah Akal keempat dan Planet Saturnus, juga beserta jiwanya. Dari Akal Keempat, keluarlah Akal Kelima dan Planet Yupiter beserta jiwanya. Dari Akal Kelima keluarlah Akal Keenam dan Planet Mars beserta jiwanya. Dari Akal Keenam keluarlah Akal Ketujuh dan Matahari beserta jiwanya. Dari Akal Ketujuh keluarlah Akal Kedelapan dan Planet Venus juga beserta jiwanya. Dan Akal Kedelapan keluarlah Akal Kesembilan dan planet  Merkurius beserta jiwanya pula. Dari Akal Kesembilan keluarlah Akal Kesepuluh dan Bulan.
          Dengan demikian, maka dari satu akal keluarlah satu akal dan planet jiwanya. Dari Akal Kesepuluh, sesudah dengan dua seginya yaitu wajibul wujud karena Tuhan, maka keluarlah manusia beserta jiwanya. Jumlah akal dibatasi pada bilangan sepuluh karena disesuaikan dengan bintang yang berjumlah sembilan, untuk tiap-tiap akal diperlukan satu planet pula, kecuali akal pertama yang tidak disertai satu planet ketika keluar dari Tuhan.
          Teori emanasi Al-Farabi dipengaruhi oleh temuan saintis pada saat itu jumlah bintang adalah sembilan, karena jumlah benda-benda angkasa menurut Aristoteles ada tujuh. Kemudian Al-Farabi menambah dua lagi yaitu benda yang terjauh dan bintang-bintang tetap, yang diambil dari Ptolomey (Cladius Ptolomazus) seorang ahli astronomi dan ahli bumu Mesir, yang hidup pada pertengahan abad ke dua Masehi.
4. Kenabian
Al-farabi adalah filosof muslim pertama yang menemukan filsafat kenabian secara lengkap, filsafatnya didasarkan pada psikologi dan metafisika yang erat hubungannya dengan politik dan etika.
Menurut Al-farabi manusia dapat berhubungan dengan akal fa’al (jibril) melalui dua cara,yaitu Penalaran atau renungan pemikiran dan Imaginasi/ inspirasi (ilham). Yang mana penalaran atau renungan hanya dapat dilakukan oleh filosof yang dapat menembus alam materi dan dapat mencapai cahaya ketuhanan, melalui latihan yang serius dan cukup lama. Sedangkan inajinasi atau inspirasi dapat dilakukan oleh nabi. Nabi mampu berkomunikasi dengan akal fa’al tanpa melalui latihan khusus karena mendapat limpahan dari tuhan berupa kekuatan/daya suci (quwwaha qudsiyyaha). sehingga Nabi lebih tinggi tingkatannya dari filosof. Seperti nabi pasti seseorang filosof  tetapi setiap filosof belum tentu seorang nabi.
5. Negara Utama
Al-Farabi hidup pada daerah otonomi dibawah pemerintah Sultan Saif AL-Daulah. Filsafat negara utama yang dicetuskan erat kaitannya dengan situasi yang sedang berkembang. Ada benarnya pendapat Zaenal Abidin Ahmad yang menyatakan bahwa latar belakang lahirnya filsafat Al-Farabi ini disebabkan terjadinya goncangan politik pada Daulat Bani Abbas dibawah tekanan para diktator di zaman Khalifah Al-Radi ( 322-329 H/934-940 M ) Muttaqi ( 329-333 H/940-944 M ) Mustakfi (333-334H/944-945 M ).
Al-Farabi berpendapat bahwa ilmu politik adalah ilmu yang meneliti berbagai bentuk tindakan, cara, hidup, watak, disposisi, positif dan akhlak. Al-Farabi berpendapat mengenai tujuan hidup bermasyarakat itu memperlihatkan pengaruh keyakinan agamanya sebagai seorang muslim, disamping pengaruh tradisi Plato dan Aristoteles yang mengaitkan politik dengan moralitas dan etika.[4]
Manusia, menurut Al-Farabi, bersifat sosial yang tidak mungkin hidup sendiri-sendiri. Manusia hidup bermasyarakat dan bantu-membantu untuk kepentingan bersama dalam mencapai tujuan hidup yakni kebahagiaan. Sifat ini yang mendorong manusia hidup bermasyarak dan bernegara. Masyarakat menurutnya, terbagi menjadi dua yakni masyarakat sempurna yaitu masyarakat yang dalam kelompok besar bisa berbentuk kota, bisa pula masyarakat berbangsa. Dan yang kedua yakni, masyarakat tidak sempurna masyarakat satu keluarga atau masyarakat sedesa.
Al-Farabi melalui bukunya yang fundamental Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah, membagi negara atau pemerintah menjadi Negara (Kota) Utama (al-madinah al-fadhilah), Negara Jahil (al-madinah al jahilah), Negara Sesat (al-madinah al-dhalah), Negara Fasik (al-madinah al-fasiqah), dan Negara Berubah (al-madinah al mutabadilah). Akan tetapi, bahasan Al- Farabi lebih berfokus ke Negara Utama. Negara Utama sebagai satu masyarakat yang sempurna yang sudah lengkap bagaian-bagiannya, diibaratkan oleh Al-Farabi sebagai organisme tubuh manusia dengan anggota yang lengkap. Anggota masyarakat yang Negara Utama, terdiri dari warga yang berbeda kemampuan dan fungsinya, hidup saling membantu.
Fungsi utama dalam fisafat politik atau pemerintahan Al-Farabi  adalah fungsi kepala negara yang serupa dengan fungsi jantung didalam tubuh manusia. Adapun politik itu sendiri adalah bentuk oprasional dari kehlian tersebut. Ada dua macam problem politik, yaitu:[5]
a.      Pemerintahan atas dasar penegakan terhadap tindakan-tindakan yang sadar, cara hidup, disposisi positif.
b.     Pemerintahan atas dasar penegakan terhadap tindakan-tindakan dan watak-watak dalam rangka mencapai sesuatu yang diperkirakan mendapat suatu kebahagiaan yang memunculkan beraneka ragam bentuk pemerintahan.
Kepala negara merupakan sumber seluruh aktivitas, sumberparaturan dan keselarasan hidup dalam masyarakat. Tugas kepala negara selain mengatur negara, juga sebagai pengajar dan pendidik terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Kalau tidak ada sifat-sifat kepala negara yang ideal, pimpinan negara diserahkan kepada seorang yang memiliki sifat yang dekat dengan sifat-sifat pemimpin ang ideal. Dari uraian diatas Al-Farabi dalam filsafatyang ini menekankan pemberdayaan manusia dalam satu negara sesuai dengan untuk kepentingan bersama dan juga untuk kepentingan negara. Dengan kata lain, saling membantu dan berkerja sama bukan hanya anatar warga egara, tetapi antar negara dan warganya. Dilahat dari sini Al-Farabi menepiskan bentuk negara kapitalisme dan sosialisme komunis.
Al-Farabi dalam menetapkan kriteria sifat kepala pemerintahan terpengatuh oleh filosof kondang dari Yunani, Plato. Namun terdapat perbedaan antara mereka. Pengarang buku Republik ini menekankan kepala pemerintahan larut dalam kejasmanian semata,sementara Al-Farabi ini, menekankan tugas kepala pemerintahan dalam alam jasmanian dan hidup dalam alam spiritual, kepala negara juga harus mampu berhubungan dengan akal kesepuluh.
Ada dugaan sementara teori Al-Farabi dipengaruhi oleh ajaran Syiah. Jika sekalipun itu benar, namun tidak sepenuhnya memegang prinsip ajaran Syiah. Bagi Syiah kepala pemerintahan disebut imam, tidak dipilih oleh rakyat, namun ia merupakan ahli al-bait (keturunan Nabi) secara turun-temurun. Sedangkan teori Al-Farabi, kepala pemerintah dipilih oleh rakyat dari warga yang memenuhi syarat tertentu. Sebenarnya pengaruh yang lebih dominan terhadap filsafat pemerintah Al-Farabi datang dari Islam sendiri. Seperti ia membandingkan antara tubuh manusia dengan negara. Keunggulan fisafat Al-Farabi ini juga terletak pada tujuan pemerintahan yang hendak dicapai, yakni kebahgiaan dunia akhirat. Oleh karena itu, peranan kepala pemerintah sangat menentukan, yang tidak hanya ia berfungsi sebagai penyelenggara dalam urusan material rakyatnya dalam urusan spiritual.



6. Jiwa
Jiwa manusia beserta materi asalnya memancar dari akal kesepuluh. Jiwa adalah jauhar rohani sebagai form bagi jasad. Jiwa manusia disebut dengan al-nafs al-nathiqah, berasal dari alam Ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa,berkadar, dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.
Bagi Al-Farabi, jiwa manusia mempunyai daya-daya sebagai berikut:[6]
a.      Daya al-Muharrikat (gerak), daya ini yang mendorong untuk makan, memelihara, dan berkembang.
b.     Daya al-Mudrikat (mengetahui), daya ini yang mendorong untuk merasa dan berimajinasi.
c.      Daya al-Nathiqat (berpikir), daya ini yang mendorong untuk berfikir secara teoretis dan praktis.
Daya teoritis terdiri daritiga tingkat berikut:
a.      Akal potensial (al-hayulany), ialah akal yang baru mempunyai potensi berpikir dalam arti melepaskan arti-arti atau bentuk-bentuk dari materinya.
b.     Akal actual (al-‘aql bi al-fi’l), akal yang telah dapat melepaskan arti-arti dari materinya, dan arti-arti itu telah mempunyai wujud dalam akal dengan sebenarnya, bukan lagi dalam bentuk potensial, tetapi telah dalam bentuk actual.
c.      Akal Mustafad (al-‘aql al-Mustafad), akal yang telah dapat menangkap bentuk semata-mata yang tidak  dikaitkan dengan materi dan mempunyai kesanggupan untuk mengadakan komunikasi dengan Akal kesepuluh.
Tentang bahagia dan sengsaranya jiwa, Al-Farabi mengaitka dengan filsafat Negara utamanya. Bagi jiwa yang hidup pada Negara utama , yakni jiwa yang kenal dengan Allah dan melksanakan perintah Allah, maka jiwa ini, menurut Al-Farabi, akan kembali kea lam Nufus (alam kejiwaan) dan abadi dalam kebahagiaan.
7. Akal
Telah disebutkan bahwa akal, menurut Al-Farabi, ada 3 jenis.[7]
a.      Allah sebagai akal
Allah sebagai akal adalah pencipta dan esa semutlak-mutlaknya, maha sempurna dan tidak mengandung pluralitas. Sebagai zat yang esa, maka objekta’aqul Allah hanya satu,yakni zatnya.
b.     Akal-akaldalam filsafat emanasi 1-10
Akal pertama esa pada zatnya, tetapi dalam dirinya mengandung keanekaan potensial. Ia diciptakan oleh Allah sebagai akal,maka objekta”aqqulnya (juga akal-akal lainnnya)tidaklah lagi satu, tetapi sudah dua: Allahsebgai wajib al wujud dandirinya sebagai mukmin al wujud.
c.      Akal yang terdapat dalam diri manusia
Akal sebagaidaya berfikir yang terdapatdala jiwa manusia.akaljenis ini juga tidak berbisik tetapi bertempat pada materi. Akal ini bertingkat-tingkat yang terdiri dari akal potensial, akal actual,dan akal mustafad.
Demikianlah uraian tentangAl-Farabi,kendati ia terpengaruh oleh filsafat aristoteles, lato, dan platinus, namun ia telah berhasil mengembangkan dan memperdalamnya sehingga dapat dikatakan hasil filsafatnya sendiri.
Secara umum dapat dilihat bahwa filsafat Al-Farabi begitu kompleks sehingga apa yang dibicarakan oleh filosof muslim sesudahnya hamper sudah pernah disinggungn oleh pewaris logika aristoteles ini. Melihat ketajaman pisau analisis dan kepiawaian serta kedlaman filsafatnya, sangat pantas ia menerima segudang anugrah sanjunga dari berbagai pihak,seperti Al-Farabi adalah filosof muslim terbesar tanpa tanding, Al-Farabi adalah filosof muslim dalam arti yang sesungguhnya,Al-farabi adalah peletak dasar filsafat islam dan lain-lain.
BAB III
KESIMPULAN
Al-Farabi memiliki nama lengkap Abu Nashr Muhammad ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh, yang lahir di Wasij, Distrik Farab, turtkistan dengan ayahnya berkebangsaan Persia serta ibunya berkebangsaan Turki ini merupakan filosof muslim terkemuka yang dalam dunia intelektual Islam mendapat julukan al-Mu’allim al-Sany (guru kedua). Dia banyak memahami filsafat Aristoteles, selain itu juga, dia banyak menguasai ilmu-ilmu science.
Hasil karya tulis Al-Farabi diantaranya ialah, Al-Jam’ bain Ra’yin al-Hakimain, Tashil al-Sa’adat, Maqalat fi Aghradh ma ba’d al-Thabi’at, Risalat fi Isbat al-Mufaraqat, ‘Uyun al-Masa’il, Ara’Ahl al-Madinat al-Fadhilat, Maqalat fi Ma’any al-Aql, Ihsha al-‘Ulum, Fushul al-Hukm, Al- Siyasat al-Madaniyyat, Risalat al-Aql dan lain-lainnya.
Filsafat Al-Farabi meliputi: Rekonsiliasi Al-Farabi, Filsafat Ketuhanan, Teori Emanasi, Filsafat Kenabian, Negara Utama, Jiwa, dan Akal.

                                                                                                  





[1] Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini: Filsafat Politik Islam, (Bandung: Mizan Media Utama, 2002), 51
[2] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 66
[3] Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung, CV. Pustaka Setia, 1997), 128
[4] Dedi Supriyadi, Filsafat Islam Konsep, Filsuf, dan Ajarannya, (Bandung:CV. Pustaka Setia, 2009), hlm 89
[5] Ahmad mustofa, Filsafat Islam, 131
[6] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, 87
[7] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, 89

DAFTAR PUSTAKA
Yamani. 2002. Antara Al-Farabi dan Khomeini: Filsafat Politik Islam. Bandung: Mizan Media Utama
Zar. Sirajuddin. 2004. Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Mustofa. Ahmad. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia
Supriyadi Dedi. 2009. Filsafat Islam Konsep, Filsafat dan Ajarannya. Bandung: CV.Pustaka setia