Cari Blog Ini

Senin, 06 Juli 2015

dsain pembelajaran model bella banathy

Berbagai macam pola pengembangan yang berkembang saat ini, salah satunya yaitu pola instruksional. Pola instruksional merupakan cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangakan dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan tertentu[1].
Pengembangan instruksional adalah teknik pengelolaaan dalam mencari pemecahan masalah-masalah instruksional atau setidak-tidaknya dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar yang ada untuk memperbaiki pendidikan.
Ada beberapa model pengembangan instruksional, salah satunya yaitu model Banathy yang akan kita bahas lebih lanjut.
Model Bela Banathy merupakan model pengembangan instruksional yang dikemukakan oleh Banathy. Model ini dapat diformasikan dalam enam langkah, sebagai berikut:
1.     Merumuskan tujuan (Formulate objectivrs).
Pada langkah ini merupakan suatu pernyataan yang menanyakan apa yang diharapkan dari siswa/mahasiswa untuk dikerjakan, diketahui dan dirasakan sebagagi hasil pengalaman belajarnya.
2.     Mengembangakan tes (develop test)
Dalam langkah ini dikembangkan suatu tes yang didasarkan atas tujuan yang diinginkan dan digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diharapkan tercapainya hasil dari pengalaman belajarnya.
3.     Menganalisis kegiata belajar (analyze learning task)
Dalam langkah ini dirumuskan apa yang harus dipelajari sehingga dapat menunjukkan tingkah laku seperti yang digambarkan dalam tujuan yang telah dirumuskan. Dalam kegiatan ini, kemampuan awal mahasiswa harus juga dianalisis atau dinilai karena tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka katehui atau kuasai,
4.     Mendesain sistim instruksional (design system)
Setelah langkah 1 sampai dengan 3 telah dilalui, perlu dipertimbangkan alternatif-alternatif dan identifikasi apa saja yang harus dikerjakan untuk menjamin bahwa para siswa/mahasiswa akan dapat menguasai kegiatan-kegiatan yang telah dianalisis pada langkah-langkah kegita tersebut (disebut functions analysis). Juga perlu ditentukan siapa atau apa yang mempunyai potensi yang paling baik untuk mencapai fungsi-fungsi tersebut . kapan dan di mana fungsi-fungsi tersebut harus dilaksanakan.
5.     Melaksanakan kegiatan dan mengatasi hasil (implement and test output)
Dalam langkah ini sistin yang telah didesain, sekarang dapat diuji coba atau dites dan dilaksanakan. Apa yang dapat dilaksanakan atau dikerjakan mahasiswa sebagai hasil implementasi sistim, harus dinilai agar dapat diketahui seberapa jauh mereka telah menunjukkan tingkah laku seperti yang dimaksudkan dalam rumusan tujuan.
6.     Meengadakan perbaikan (change to improve)
Hasil-hasil yang diperoleh dari evaluasi kemudian merupakan umpan balik (feed back) untuk keseluruhan sistem sehingga perubahan-perubahan (jika diperlukan) dapat dilakukan untuk memperbaiki sisti instruksional[2].



[1] Basyirudin Usman, metode pembelajaran agama  islam, (Jakarta: Ciputat Pres, 2002), 78
[2] Basyirudin Usman, metode pembelajaran agama  islam, 82

Tidak ada komentar:

Posting Komentar